
Tepat pukul 11 malam saya terbesit topik tulisan ini. Mungkin saja ada beberapa orang yang mulai merasa hal ini dan sudah menyadarinya. Atau mungkin saja mulai mengalami tapi belum tahu dan sadar mengenai topik ini Tidak apa-apa kadang memang semua berawal dari ketidaktahuan.
15 tahun yang lalu siapa yang mengira bahwa di masa depan akan jauh lebih nyaman? Tepat 15 tahun yang lalu atau pada saat saya berusia 8 tahun, saya mengira saat kuliah saya akan belajar hal yang berat, membaca buku-buku tebal, mengikuti organisasi, memiliki pacar yang selalu men-support, bisa bermain badminton di lapangan kampus setiap hari, dan tidak perlu berangkat pagi. Paling tidak bayangan saya di waktu itu seindah di film Gifted Hands: The Ben Carson Story. Dimana tokoh Ben Carson yang sedang belajar teori bedah otak dan didukung orang yang dikasihinya. Tapi rasa-rasanya kadang tidak seperti itu.
Coba kita bayangkan bersama-sama. Pada satu saat kamu perlu menjadi sosok mahasiswa/pegawai yang kritis, perlu mempertimbangkan perasaan dosen/atasan, serta memikirkan teman lain yang berusaha tampil di depan dosen/atasan agar terlihat aktif. Belum lagi di waktu yang bersamaan, temanmu, pacarmu, atau keluargamu yang membutuhkan kehadiranmu. Gimana coba? Dalam kondisi tersebut tentunya menuntut kamu untuk men-switch posisi dirimu dengan cepat agar terjadi keseimbangan.
Hal tersebut wajar
Bagi beberapa orang yang terbiasa, mereka akan tetap diam dan melakukan aktivitasnya tanpa kendala atau permasalahan. Akan tetapi bagi yang tidak terbiasa mungkin bakal nggedumel sendiri di belakang atau membutuhkan waktu untuk beristirahat. Tidak apa-apa, saya tidak akan menyalahkanmu. Saya percaya setiap orang memiliki cara mereka untuk merespon suatu kondisi (meski kadang saya masih berusaha memahami kondisinya).
Apa yang saya ceritakan masih di seputar kehidupan mahasiswa/pegawai. Saya membayangkan akan seperti apa kehidupan setelah ini (kehidupan setelah bekerja, menikah, memiliki anak, dll). Pasti lebih kompleks lagi kondisi yang akan terjadi.
“Tapikan hal tersebut bisa diminimalisir dari sekarang, misal memilih orang yang dapat membuatmu selalu bahagia dan lain-lain”
Pernyataan dapat diminimalisir mungkin tepat tapi saya rasa tidak 100% bekerja. Entah tapi apakah orang tersebut dapat menjamin kebahagiaanmu 100%. Terus bagaimana kalau orang tersebut sedang lelah? Dan yang ada kamu yang menjadi permasalahan bagi orang tersebut.
Tenang saja meski kadang rasa ketakutan itu ada, bukan berarti masalah akan tetap menjadi masalah. Nyatanya banyak orang yang bisa melaluinya. Contohnya, kamu yang awalnya mengira kehidupan dewasa menyenangkan dan kenyataannya (kadang) tidak seperti itu, ternyata masih bisa kamu melaluinya.
Saya percaya perlahan-lahan kita akan mulai membiasakan diri dan mulai mencari jalan keluarnya masing-masing. Hal ini terjadi karena pada dasarnya manusia itu makhluk yang mampu beradaptasi. Semoga saja apa yang terjadi nanti dapat kamu lalui denga aman. Amin.


